TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita

Wasis Sarjono Bertekad Kembalikan Khittah BBPP Batu

15/05/2019 - 22:21 | Views: 806
Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kota Batu, Wasis Sarjono SPT MSi (FOTO: Adhitya Hendra Permana/TIMES Indonesia)

TIMESMALANG, BATU – Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan Kota Batu (BBPP Batu), Wasis Sarjono SPT MSi bertekad mengembalikan khittah BBPP Batu sebagai pusat pelatihan unggulan persusuan dan teknologi hasil ternak.

Pasalnya, selama ini banyak program BBPP yang terlalu menasional, sehingga melupakan sentuhan lokal yang sebenarnya membutuhkan campur tangan balai yang berada dalam naungan Badan Penyuluhan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian.

Salah satu cara yang dilakukan adalah mengubah paradigma kerja aparatur sekaligus mengubah strategi pelatihan persusuan dan teknologi hasil ternak untuk lebih memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat.

“Kembalikan khittah BBPP Batu seperti sediakala dengan tetap mendukung program strategis Kementerian Pertanian, caranya dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas,” ujar Kepala BBPP Kota Batu yang namanya meroket setelah berhasil mengembangkan produksi telur omega 3 ini.

Hal ini menurut Wasis harus dilakukan dikala ada penurunan grafik jumlah angka sapi perah. Langkah ini harus diawali dengan merubah paradigma kinerja pegawai dengan menyesuaikan kebutuhan akselerasi pembangunan, meski diakuinya saat ini masih ada pegawai yang belum memahami mindset paradigma perkembangan pembangunan saat ini.

“Jangan terkungkung dengan kebiasaan dengan selalu berpikiran, wong ngene wes enak kok (Begini saja sudah enak kok), gaji tidak dipotong, balai juga tidak akan ditutup. Pertanyaannya apakah masyarakat sudah merasakan manfaat keberadaan balai ini?,” kata laki-laki kelahiran Klaten ini.

Sebagai Balai yang memiliki branded peternakan sapi perah, kata Wasis, perlu dievaluasi apakah masyarakat petani sapi perah di Malang Raya ini sudah merasakan manfaat keberadaan Balai ini.

“Apakah peternak di sekitar Balai sudah sejahtera?. Ibaratnya jangan sampai kita bersih-bersih halaman tetangga, sementara halaman rumah kita sendiri belum bersih,” ujar laki-laki yang memulai kariernya dari menjadi seorang penjaga kebun ini.

Artinya, keberadaan BBPP ini harus memberikan manfaat untuk masyarakat Malang Raya, bukan hanya memberikan manfaat untuk petani sapi perah dari luar kota bahkan luar provinsi hingga mancanegara.

Hal ini menurut Wasis adalah pekerjaan rumah yang besar bagi BBPP tidak hanya mendorong etos kerja dan mengubah mindset pegawai, pihaknya berencana untuk memanggil semua penyuluh untuk kembali dilatih secara tematik terkait sapi perah, sehingga penyuluh yang ada di berbagai sentra komoditas bersemangat mendampingi petani.

Pihaknya pun merancang sistem kinerja tidak berdasarkan pada SPPD, namun berbentuk wilayah pendampingan. Di mana ada wilayah pendampingan yang digarap oleh para penyuluh yang tugasnya nanti selain memberikan penyuluhan kepada peternak juga berkoordinasi dengan dinas teknis di daerah.

Terlebih dinas teknis di daerah memiliki pos anggaran untuk bantuan sarana prasarana. Sehingga tercipta kerjasama kinerja yang sinergis antara BBPP dengan dinas teknis di daerah.

Dari sisi anggaran pun, Wasis memperjuangkan perubahan skema, dimana di tahun 2020, pihaknya melakukan pergeseran prioritas pelatihan sehingga menghasilkan peluang dari seseorang yang awalnya job seeker hingga menjadi job creator.

“Selama ini pelatihan pesertanya dari mana-mana, sebagian alokasi anggaran akan kita tarik untuk membenahi Malang Raya terkait sapi perah, sehingga muncul peternak sapi perah yang handal, di mana keberadaan mereka nanti bisa menjadi mentor dan motivator terkait pengembangan sapi perah,” kata Wasis.  

Selama ini BBPP masih konsen pada instalasi sementara di lapangan banyak permasalahan yang kompleks yang pemecahannya membutuhkan pendampingan dari BBPP Batu. Banyak teknologi sederhana yang menggunakan kearifan lokal bisa menjadi solusi. Sementara, keberadaan teknologi ini belum diketahui masyarakat.

“Di lapangan permasalahannya lebih komplek, itu yang membuat khittah kita harus dikembalikan, di sini banyak senior-senior yang ahli sapi perah. Yang harus ditangani adalah manajemen pemeliharaan sapi perah, terutama pakan, sanitasi kandang terus pengawasan terhadap penyakit,” ujar Wasis.

Selain itu, BBPP terus melakukan pengembangan teknologi inovasi peternakan. Salah satunya saat ini BBPP sedang mengikuti lomba inovasi tahunan Kementerian yang bisa langsung ditransfer langsung ke masyarakat.

Dari hampir 3000 proposal yang masuk, proposal BBPP berjudul kandang sapi sebagai ladang energi sudah masuk dalam 1000 proposal.

“Mudah-mudahan bisa masuk Top 99, karena isu yang kita bawa dalam inovasi ini adalah Pro Planet, isu pelestarian nasional, artinya lewat inovasi ini limbah bisa kita manfaatkan, contoh yang sudah kita kembangkan kan bahan bakar mobil dari kotoran sapi yang sudah diolah dalam bio gas,” ujar Kepala Bagian Umum BBPP, M Abdul Aziz SPT MAP.

Hal itu salah satu upaya mewujudkan tekad Kepala BBPP Batu, Wasis Sarjono SPT MSi untuk mengembalikan khittah BBPP Batu sebagai pusat pelatihan unggulan persusuan dan teknologi hasil ternak. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Jurnalis : Muhammad Dhani Rahman
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Batu
Copyright © 2019 TIMES Malang
Top

search Search